Adatnya, istilah tangguh digunakan dalam konteks pertandingan. Bisa apa saja dan banyak macamnya. Yang jelas, kata tangguh kerap dilekatkan dengan karakter permainan dan fisik lawan main dalam pertandingan yang dimaksud. Lawan yang tangguh. Kira-kira begitu orang sering mengucapkannya.
Tapi, pada kesempatan yang lain, kata tangguh juga tidak jarang dilesakkan ke dalam sosok si pemain itu sendiri, maksudnya bukan lawan main yang sudah disebut di atas. Jadi, istilah itu sejatinya bisa berafiliasi kemana saja, tergantung pada konteksnya.
Secara lahiriah, kata tangguh umumnya dapat dimanifestasikan dalam bentuk-bentuk dinamis yang kasat mata. Contohnya, tubuh yang berotot, tegap, tinggi, besar, kuat (powerful), lincah, dan pantang menyerah. Kalau diterapkan pada konteks pertandingan (olah raga) fisik, barangkali, wujud-wujud dinamis yang terlihat indera tersebut cukup gampang dipahami.
Masih dalam semesta “ketangguhan” di atas, sejumlah negara di dunia belakangan bersepakat menyandarkan karakter itu ke “tubuh” bangsa tercinta ini. Seperti yang sudah sering dikabarkan media massa, Indonesia termasuk satu dari tiga negara –lainnya Cina dan India---yang pertumbuhan ekonominya positif (4,3%) di tengah gonjang-ganjing ekonomi dunia 2008-2009. Ekspor komoditas yang relatif baik kendati terkoreksi---dari sisi volume dan nilai---dan konsumsi domestik yang terpelihara membikin ekonomi nasional tampil “prima” dalam situasi krisis ekonomi global.
Di sisi lain, inflasi relatif terkendali dan tercatat terus menurun dari awal tahun hingga ke titik 2,83 % (September 2009). Nilai tukar rupiah terhadap dolar juga cenderung menguat meski terjadi koreksi-koreksi sesaat. Indeks harga saham gabungan (IHSG) kendati terkoreksi tapi masih tetap di level yang aman.
Sektor perbankan juga menjunjukkan “ketangguhannya” sepanjang 2009. Rasio kecukupan modal mencapai 17,6% (September 2009), naik 1,4% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Secara year on year, kredit perbankan juga tetap tumbuh sebesar 7,17%.
Kendati penyaluran kredit terbilang lambat, namun profitabilitas industri ini masih cukup tinggi. Pada September, Net Interest Margin (NIM) perbankan mencapai 9,80%. Sementara, Return on Asset (ROA) tercatat 2,6%. Naik sekitar 0,3% dari periode yang sama tahun 2008. Kondisi ini terjadi lantaran perbankan keukeuh menjaga tingkat laba yang besar. Praktiknya, suku bunga simpanan cenderung turun lebih cepat ketimbang suku bunga kredit.
Dari kisah di atas, boleh saja kita berbangga hati. Negeri ini menjadi salah satu pemain yang tangguh di pentas dunia. Tapi, pertanyaannya, apa betul ketangguhan fundamental ekonomi negeri ini betul-betul tangguh seutuhnya? Di atas kertas, angka-angka itu memang tampil secara apik. Namun, apa demikian juga ketika dikaitkan dengan dinamika dan proses-proses di lapangan yang akhirnya mengerucut pada hasil yang positif tadi.
Seorang ekonom yang diamini Badan Pusat Statistik pernah melontarkan semacam otokritik terhadap pencapaian pertumbuhan ekonomi negeri ini. Menurut kedua pihak itu, pertumbuhan ekonomi kita---kalau boleh disebut “ketangguhan” ekonomi negeri ini---sebetulnya tidak sehat alias tidak berkualitas.
Ini karena, menurut mereka lagi, pertumbuhan yang kita capai lebih banyak disokong oleh sektor-sektor nontradable ketimbang yang tradable. Anasirnya demikian, pertumbuhan ekonomi yang didominasi oleh sektor nontradable pada praktiknya kurang mampu menyerap banyak tenaga kerja. Padahal, penyerapan tenaga kerja merupakan indikasi penting dari pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Jadi, idealnya, pertumbuhan ekonomi itu harus mengarah ke
Agar ketangguhan kita itu lebih nyata, ide yang paling baik ke depan---yang harus ditempuh pemegang otoritas---adalah mengubah portfolio tadi, dari nontradable ke sektor tradable. Caranya, perhatian dan penggarapan serius harus lebih difokuskan ke sektor tradable terutama pertanian, industri pengolahan, dan infrastruktur.
Dus, ketika bicara ihwal inflasi yang relatif terkendali tadi, ada teori umum yang menyebutkan, inflasi juga bakal cenderung menurun ketika kondisi ekonomi global menurun. Dan, itu berpotensi sebaliknya. Artinya, “ketangguhan” inflasi kita bisa sewaktu-waktu digoyang ketika ekonomi dunia berjalan normal. Cuma memang, kita harus akui secara jujur, peran Bank Indonesia (BI) selaku penjaga gawang stabilitas keuangan dan moneter di negeri ini tak bisa dianggap enteng. Kebijakan BI terkait dengan pengendalian inflasi terbilang agresif dan responsif.
Sekadar catatan ke depan, sudah waktunya para pemegang otoritas di berbagai bidang ekonomi di republik ini lebih merapatkan barisan. Menyatukan visi dan langkah agar tidak tumpang tindih seperti yang lalu-lalu.



