Rabu, 25 Januari 2012

Teror Resesi

Banyak pihak di berbagai belahan bumi ini tak yakin efek krisis utang yang melilit Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara di Benua Eropa akan surut dalam waktu dekat. Prediksi yang berkembang akhir-akhir ini mengisyaratkan, AS dan Eropa makin mendekati situasi resesi yang cukup panjang. Langkah konsolidasi AS yang diharapkan menghasilkan keputusan (politik dan ekonomi) yang menyejukkan ternyata belum juga mewujud secara pasti. Pada jangka menengah bahkan panjang, pemerintah AS bakal makin sibuk karena urusan defisit anggaran dan pengangguran yang terus membengkak. Selain harus memberesi beban hutangnya, biaya sosial pemerintahan Barack Obama tentu semakin mahal. Inilah kenapa, muncul asumsi masa tak menentu di AS akan semakin panjang. Langkah pemulihan yang diprediksi memakan waktu satu hingga tiga tahun ke depan belum tentu menjamin ekonomi AS bakal pulih kembali seperti sedia kala. Tak pelak, kondisi itu lantas menebarkan teror kegalauan yang “menggila” di belahan bumi lainnya, termasuk kawasan Asia. Pun sama halnya dengan situasi yang berkembang di daratan Eropa. Tekanan ekonomi lantaran beban hutang yang mendera sejumlah negara maju di kawasan itu juga belum menunjukkan gejala yang melegakan. Tren pemangkasan peringkat utang yang menimpa Hungaria dan Portugal makin mempertebal khasanah seputar jurang resesi di Eropa. Di pengujung November lalu, Jerman, Italia, dan Perancis menggelar rapat darurat untuk membahas solusi ke depan mengenai terjadinya default surat utang Jerman yang berpotensi menciptakan krisis baru yang lebih dahsyat. Jika penanganan krisis utang di kawasan itu terus menemui jalan buntu, muncul kekhawatiran, efeknya bakal merembet ke koloni negara lain dalam skala yang cukup besar. Lagi-lagi, perkembangan yang demikian juga turut menyulut kegelisahan di banyak blok negara. Tak terkecuali negara-negara di wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara dimana republik ini menjadi bagian aktif dari blok yang ada. Pada episode selanjutnya, kondisi mutakhir yang terjadi baik di AS maupun di Eropa menjadi pijakan bagi lembaga keuangan internasional dan sejumlah analis pasar untuk melakukan kalkulasi serta mematok asumsi-asumsi perekonomian ke depan. Pelemahan ekonomi yang melanda dua kutub ekonomi tersebut kemudian melahirkan rumusan kebijakan generik yang dipraktikkan oleh banyak negara. Pengurangan beban utang negara (dari sisi fiskal) dan mereduksi kebutuhan impor barang dan komoditas dari luar negeri belakangan menjadi langkah yang mahfum ditempuh. Pada prosesnya kemudian, hal tersebut menelurkan dinamika lanjutan yang notabene menjadi tantangan sekaligus ganjalan bagi perekonomian di banyak negara. Yang kemudian mengemuka di ranah publik adalah maraknya koreksi pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara. Pada 2012 mendatang, Indonesia, misalnya, diperkirakan akan mengalami perlambatan kendati masih cukup “strong” ketimbang negara-negara di kawasan Asia Tenggara lainnya. Awal Desember lalu, Asian Development Bank (ADB) memrediksi negeri ini bakal tumbuh di kisaran 6,5% ---prediksi sebelumnya 6,8%---atau turun 1,1% dari perkiraan pertumbuhan ekonomi di 2011 yang diasumsikan sebesar 6,6%. Dus, pada kondisi yang terburuk dimana masa resesi di AS dan Eropa diandaikan terus berkepanjangan dan makin terperosok ditambah permintaan ekspor yang kian lesu, pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun depan diprediksi turun 1% menjadi 5,5%. Kendati terdengar masih “aman”, prediksi pertumbuhan ekonomi---yang notabene masih cukup tinggi ketimbang negara di kawasan---itu justru berpotensi memicu kenaikan harga barang dan jasa di Tanah Air. Permintaan bahan bakar minyak (BBM) yang meningkat dan kenaikan upah yang menjadi dinamika lanjutan dari pertumbuhan ekonomi disinyalir akan melahirkan inflasi. Tak hanya itu, melonjaknya bahan pangan terutama beras akibat kelangkaan produksi di negara penghasil beras seperti Thailand---yang dilanda banjir hebat---diyakini juga akan menyumbang angka inflasi di tahun mendatang. Pada 2012, muncul perkiraan, inflasi bakal berada di kisaran 6,2%-6,3%. Di sisi lain, Indonesia kini makin dipercaya sebagai negara tujuan investasi yang cukup legit. Tingkat risiko yang dinilai makin menurun serta hasil imbal balik investasi yang lumayan tinggi kian meneguhkan pandangan tersebut. Upaya pemerintah menguatkan ekonomi domestik juga telah direspons dengan baik oleh pelaku usaha. Paling tidak, dinamika ekonomi dalam negeri akan berlanjut kendati di luar krisis terus bergulir. Di sektor perbankan, pertumbuhan kredit diperkirakan masih di atas 20%. Ekspektasinya, kredit benar-benar mengucur ke sektor-sektor produktif yang menyerap banyak tenaga kerja. Dalam hitungan-hitungan di atas kertas, kita boleh saja merasa optimistis terhadap perekonomian domestik. Namun, keadaan bisa saja berubah dengan cepat. Hal yang bijak adalah bagaimana pemerintah beserta lembaga-lembaga terkait mampu merespons dengan tepat perkembangan yang terjadi lalu menerjemahkannya dalam kebijakan yang berkualitas, terukur, dan terarah. Dalam kondisi yang serba tak tentu dewasa ini, langkah strategis yang ampuh menghalau efek krisis sangat dibutuhkan. Tahun depan, perekonomian global termasuk ekonomi domestik kemungkinan besar masih diwarnai teror resesi. Karena itu, di gedung-gedung pencakar langit, di perkantoran, di pasar-pasar tradisional, hingga ke pojok-pojok gang, masyarakat sudah pasti menunggu kebijakan konkret yang betul-betul dapat mengayomi kehidupan ekonomi mereka ketimbang janji-janji di atas kertas.

Sabtu, 17 September 2011

Lelah, Berpikir tentang Bayang-Bayang !

Hampir enam bulan berjalan. Kini, sudah masuk hari ke29 bulan yang ke-6. Masih saja sepi dan datar perjalanan ini. Teman dan kawan silih berganti datangnya. Mereka tak kunjung habis. Di kantor, di jalan atau di pinggiran kota pun selalu saja ada yang membuat kesan. Namum saat ini kembali sepi. Di setiap langkah yang kupijak selalu muncul bayang-bayang yang dulu pernah singgah. Dikerumunnya orang belantara kota, bayangan itu pasti hadir mengisi terawang mata memandang. Gila betul kekuatan bayangan itu dibenakku. Semua langkah terasa galau di terpa angin dan hujan, tapi kini semuanya bisa menjadi teman dalam kesendirianku…sungguh sebetulnya diri ini tak berharap…tapi nyatanya tetap saja sepi yang mendera…tapi sudahlah…aku harus tetap berjalan. Tetap mendengarkan lagu-lagu kesayanganku dan menapaki jalan yang ada di hadapan. Kesepian bukanlah segalanya. Masih ada waktu yang akan menjawabnya. Apalagi kalau berkawan kesibukan dan gelimang pekerjaan….sepi itu akan lenyap pelan-pelan seperti nyala lilin yang tinggal ujungnya…bersabarlah kata orang. Kita punya waktu sendiri untuk bertemu dengan belahan yang mungkin akan jadi teman selamanya. Lepaskan keluh hati dan bimbang yang meradang. Bersabarlah untuk tetap mencari makna dalam kesendirian ini. Percayalah, Tuhan selalu memberi yang terbaik buat umatnya. Berdoa dan meminta mungkin akan mengobati dahaga yang datang. Basuhlah muka dan beningkan hati. Ah, itu sekedar himbauan saja kawan. Tapi cobalah diam dan renungkan segala apa yang pernah kita lalui dalam sejarah hidup kita masing-masing. Dulu kita ini papa, kaum papa, yang hanya bisa menangis dan trtawa…disuapi jika lapar, merengek jika meminta sesuatu dan marah jika tak diberi….sekarang setelah semuanya berganti ujud dan suasana kita tidak bisa seperti itu lagi. Peradaban membuat kita berubah, pelan tapi pasti. Tersadar atau tidak kita hanyut dalam arus kehidupan yang tiada henti menerpa relung jiwa kita. Pusaran kehidupan itu sudah ada di depan kita. Perjuagan hidup sudah mennatang kita di sana. Ingatkah ketika kita masih duduk di bangku kuliah, selalu saja keyakinan yang kita bangun bersama logika-logika ilmu pengetahuan. Kini saatnya teori itu kita benturkan dengan kenyataan. Desssss…… Masih bisa tersenyum kah sekarang ? Semoga masih. Selang beberapa hari nanti suasana hati akan berganti. Bolehlah hari ini kita sepi sendiri. Hanya berkawan dendang kepedihan. Tapi jangan lupa, esok kita bisa tertawa dan berteriak seperti orang gila. Percayalah! Hanya orang dungu yang menganggap sepi adalah akhir….kita kan bukan golongan itu…masih ada teman dan kawan yang akan mengisi pijak langkah yang kita tempuh…itu akan lebih indah dan nyata adanya. Kesemuan dan kefanaan yang kita pikir akan membuat buntu dan mampat pikiran ini. kembalilah pada masa-masa dimana kita bisa tersenyum tanpa ada pamrih ….tertawa tanpa ada udang dibalik batu dan berteriaklah seolah kita ada di tengah lautan….hidup ini indah kawan….. Segera, pandanglah ke bawah, jangan dongakkan kepala ke atas….nah begitu lebih baik…simpanlah kegalauan dalam lembar hitam lalu tulislah itu tebal-tebal…!Jangan setengah-setengah menulisnya. Tulis sampai kita mendapatkan makna kegalauan itu….. Bagian 2 Dari Cerita di Atas… Dalam sebuah ruang 4X5 meter, ia tertegun melihat sinar yang keluar dari kotak ajaib. Di jam yang yang sama dan tempat duduk serta meja yang sama pula, ia sendiri. Tanpa teman dan sepi. Jam di dinding terus berdetak, bahkan detiknya pun terdengar keras…..tapi tidak seiring dengan detak jantungnya…ia tetap saja tak beranjak! Boss, kenapa mesti berpangku tangan dan menghela nafas? Anggap saja ini sebuah kewajaran…bukan hanya Boss saja yang merasakan hal serupa. Banyak di antara kita yang mersakan hal itu. Cuma mereka pintar bertopeng muka. Mereka pandai mencari jalan keluar….tidak seperti anda ini….berpangku tangan di pinggir meja dan terus menghembuskan kepul asap yang akan membunuh suatu saat nanti….sepi adalah bagian dari keramaian dan keramaian adalah belahan sepi… keduanya saling mengisi hidup ini Boss…bersikaplah sepetti burung yang selalu berkicau, angin malam yang membalut tulang, gemercik air yang selalu berisik dan muntahan hujan yang membikin kita sebel….semua sudah diatur Boss….hidup kita pun demikian, jadi jangan bersusah payah berpikir tentang kesendirian…..kalau datang waktunya ia akan menjeput kita di penghujung jalan…lalu membukakan pintu untuk kita…seraya mengucap selamat datang di dunia baru… teruslah berdoa dan berharap waktu itu akan tiba….jadikan harapan itu sebagai bara yang menyalakan mesin hidup kita ….di mana saja….kembalilah ke kodrat, kita ini siapa…tetaplaj menunduk dan merendah…itu akan membuat lebih tenang hidup ini…. juga jangan lupa…..menulis sebait puisi dan mengirim pernak-pernik yang membuat hati berbunga sebaiknya dicoba….diam tanpa usaha kan sama saja bohong, tul nggak ? Salam, (Jakarta, 19 Maret 2003)